Jangan bersedih...
j a n g a n bersedih...
jangan b e r s e d i h...
ja-ngan bersedih...
jangan ber-sedih...
a k u mau....
tapi air mata tak mau t a h u
jatuh menitik mewakili r a s a
aku m a u...
tapi rasa tercampakkan
terlalu p i l u
p e r i h...
r e m u k
nyeri....
l a n t a k
Jangan menangis
j a n g a n menangis
jangan m e n a n g i s
ja-ngan menangis....
jangan me-nangis...
tak a p a
sebab hanya itu yang aku b i s a
untuk menghalau rasa tercampakkan...
terlalu p i l u
p e r i h...
r e m u k
N y e r i...
l a n t a k...
Monday, April 16, 2012
Saturday, March 31, 2012
Wajahku Saat ini...
Ketika doa tak lagi menjadi yang tertinggi
KehendakMu lah di atas segalanya
Ketika rasa hina menjadi pijakan hakiki
Perjumpaan denganMu lah penghalau segala duka...
Hackett-Canberra, 31 Maret 2012
Terlahir sendiri, menjalani sendiri dan menyongsong sendiri
KehendakMu lah di atas segalanya
Ketika rasa hina menjadi pijakan hakiki
Perjumpaan denganMu lah penghalau segala duka...
Hackett-Canberra, 31 Maret 2012
Terlahir sendiri, menjalani sendiri dan menyongsong sendiri
Monday, March 12, 2012
Akulah sang Pemain Cinta itu...
Kau memandang aku memandang
Kau tersenyum aku memandang
Kau mendekat aku memandang
Kau menyapa aku memandang…
Aku tak mengerti, mengapa..berjuta tanya menyeruak dalam hati.
Sewindu bongkahan itu dorman.
Biarlah dia tetap seperti itu.
Sebab ketika itu ada yang bersikeras membangunkannya.
Terengkuh dan tersambut
Terluka dan berdarah..
lalu kembali dorman...
Hingga biarlah dia tetap seperti itu.
Kemudian…
Kau memandang aku memandang
Kau tersenyum aku memandang
Kau mendekat aku memandang
Kau menyapa aku memandang
Sekali lagi aku tak mengerti, mengapa…
Sewindu bongkahan itu terluka dan berdarah
Jika Akulah Sang Pemain Cinta itu…
Bukan dengan tanpa alasan aku bermain dengan bijaksana…
Sewindu bongkahan itu terluka dan berdarah
Menanti curahan penghela perih
datang dan pergi...tak mampu menyeka
Jika Akulah Sang Pemain Cinta itu...
Dan Kau mendamba...Sadarlah..
Akulah Sang Pemain Cinta itu...
Bukan dengan tanpa alasan aku bermain dengan bijaksana
Kau tersenyum aku memandang
Kau mendekat aku memandang
Kau menyapa aku memandang…
Aku tak mengerti, mengapa..berjuta tanya menyeruak dalam hati.
Sewindu bongkahan itu dorman.
Biarlah dia tetap seperti itu.
Sebab ketika itu ada yang bersikeras membangunkannya.
Terengkuh dan tersambut
Terluka dan berdarah..
lalu kembali dorman...
Hingga biarlah dia tetap seperti itu.
Kemudian…
Kau memandang aku memandang
Kau tersenyum aku memandang
Kau mendekat aku memandang
Kau menyapa aku memandang
Sekali lagi aku tak mengerti, mengapa…
Sewindu bongkahan itu terluka dan berdarah
Jika Akulah Sang Pemain Cinta itu…
Bukan dengan tanpa alasan aku bermain dengan bijaksana…
Sewindu bongkahan itu terluka dan berdarah
Menanti curahan penghela perih
datang dan pergi...tak mampu menyeka
Jika Akulah Sang Pemain Cinta itu...
Dan Kau mendamba...Sadarlah..
Akulah Sang Pemain Cinta itu...
Bukan dengan tanpa alasan aku bermain dengan bijaksana
Sunday, March 11, 2012
Aku bisa apa?...
KAU singkap tirai itu kembali
Jiwa melayang pada simpangan
Terengkuh ataukah terhempas
Duuhhh...jiwa ini hanya sujud pada kendali
Kembali ada azali itulah harapan
Duka bersama derita biarlah teretas
Canberra, 11/03/2012
pada simpangan yang menjenuhkan
Jiwa melayang pada simpangan
Terengkuh ataukah terhempas
Duuhhh...jiwa ini hanya sujud pada kendali
Kembali ada azali itulah harapan
Duka bersama derita biarlah teretas
Canberra, 11/03/2012
pada simpangan yang menjenuhkan
Saturday, March 10, 2012
Berguru pada Sang Buih
Kaki berkeras mengajak melangkah
Lambat-lambat hati mengikut jua
Meski Jiwa menerawang perih
Pucuk, batang dan akar tak sekata
Sang Buih putih gemulai
Menari seiring musik jeram
Melenggang lembut meliuk mesra
Berputar sejenak saling menyapa
Tuk akhirnya kembali menari seiring musik jeram
Sang Buih berlaku bukan kehendak
Jeram menaruh telunjuk atas lenggangnya
Sang Jeram berlaku bukan kehendak
Gaib menaruh telunjuk atas arusnya
Pun pucuk,batang dan akar berlaku bukan kehendak
Gaib menaruh telunjuk atas segalanya
Canberra, 10 Maret 2012
Bingung dan resah...
Lambat-lambat hati mengikut jua
Meski Jiwa menerawang perih
Pucuk, batang dan akar tak sekata
Sang Buih putih gemulai
Menari seiring musik jeram
Melenggang lembut meliuk mesra
Berputar sejenak saling menyapa
Tuk akhirnya kembali menari seiring musik jeram
Sang Buih berlaku bukan kehendak
Jeram menaruh telunjuk atas lenggangnya
Sang Jeram berlaku bukan kehendak
Gaib menaruh telunjuk atas arusnya
Pun pucuk,batang dan akar berlaku bukan kehendak
Gaib menaruh telunjuk atas segalanya
Canberra, 10 Maret 2012
Bingung dan resah...
Friday, March 09, 2012
Akhirnya...
Ketika semuanya jelas...
Kau akan memahami
Bahwa cinta yang sesungguhnya adalah...
Berbagi dan tersenyum...
Kau akan memahami
Bahwa cinta yang sesungguhnya adalah...
Berbagi dan tersenyum...
Monday, February 14, 2011
Tuesday, April 20, 2010
Untuk yang tidak punya rasa malu
Ada hal yang ingin kukatakan padamu
tidak bisa tidak...
harus kukatakan....
agar tak ada lagi kepedihan yang tersisa
Kau membuatku muak...
bergunung endapan kesedihan ingin kumuntahkan
tapi harus tepat diwajahmu
agar kamu bisa merasakan endapan muak itu
Kau membuatku marah...
hingga kata sabar terhapus dalam kosa kataku
setiap huruf yang keluar dari mulutku
adalah hal yang terhina untukmu
Kau tidak tau malu...
betul-betul tidak tau malu...
menjual diri sendiri untuk ketidak-maluan mu..
tidak bisa tidak...
harus kukatakan....
agar tak ada lagi kepedihan yang tersisa
Kau membuatku muak...
bergunung endapan kesedihan ingin kumuntahkan
tapi harus tepat diwajahmu
agar kamu bisa merasakan endapan muak itu
Kau membuatku marah...
hingga kata sabar terhapus dalam kosa kataku
setiap huruf yang keluar dari mulutku
adalah hal yang terhina untukmu
Kau tidak tau malu...
betul-betul tidak tau malu...
menjual diri sendiri untuk ketidak-maluan mu..
Tuesday, December 15, 2009
Aotearoa
Morning breeze..
Summer heaven...
crowned by
the pearl looking softy cloud
Aotearoa....
lush and love
by the roses blooming
lilies and lavender striptise
unbearable
seduce me...
spoiling me
and hook me
deeply
and reluctant to say good bye
Aotearoa
15th of December 2009, Palmerston North-New Zealand
I've learnt alot to cope with myself and to give a space for other people
Summer heaven...
crowned by
the pearl looking softy cloud
Aotearoa....
lush and love
by the roses blooming
lilies and lavender striptise
unbearable
seduce me...
spoiling me
and hook me
deeply
and reluctant to say good bye
Aotearoa
15th of December 2009, Palmerston North-New Zealand
I've learnt alot to cope with myself and to give a space for other people
Friday, September 05, 2008
Percakapan Hati
"Aku capek...."
"Aku muak...."
"Capek karena apa?? muak pada apa(siapa)?"
"Tidak bisakah Kau cabut saja kebencian itu sampai pada akar-akarnya?...
agar tak ada yang tersisa....berbenih pun tidak?"
"Bukan kah KAU kuasa melakukannya??"
"Bukankah KAU mudah saja membolak-balikkan rasa itu pada siapapun yang KAU hendaki??"
"Tapi kamu menikmatinyakan??? Sesungguhnya hatimu sendiri yang menjaga rapat rasa itu"..
" Jikalau kau tidak menyukainya...bukankah sejak lama sudah kau campakkan sendiri dari dasar hatimu??!!!..."
"Aku tidak mengerti..."
"Mengapa KAU balik menuduh aku...???"
"kamu yang menuduh AKU....maka kau akan liat AKU akan seperti apa yang kau tuduhkan..."
"tidak kah kau lihat..AKU menyayangimu...AKU penuh rahmat pada mu...., AKU berkehendak atas dirimu..."
"kalau begitu...kenapa tidak KAU kehendaki saja langsung rasa benci itu hilang dari hatiku...jika KAU memang MAHA Berkehendak..."
"Sayang...memang AKU berkehendak, AKU memberi....tapi yang perlu kau tahu AKU BUKAN PEMAKSA..."
"AKU tidak akan memberi apa yang tidak kau pinta...."
"Jikalau kau tidak pernah meminta pertolongan-KU untuk menjaga hatimu..."
"Jikalau kau tidak pernah meminta cahaya-KU untuk menerangi hatimu..."
"Jikalau kau tidak pernah meminta hidayah-KU untuk memberi petunjuk pada hatimu..."
"Bagaimana mungkin AKU akan memberimu????!!!...."
"Semuanya tergantung keinginanmu..."
"Sesungguhnya AKU hanya Mengabulkannya....."
aku termangu...
Makassar, 5 Ramadhan 1219 H
Untuk sebuah hati yang rindu dituntun
"Aku muak...."
"Capek karena apa?? muak pada apa(siapa)?"
"Tidak bisakah Kau cabut saja kebencian itu sampai pada akar-akarnya?...
agar tak ada yang tersisa....berbenih pun tidak?"
"Bukan kah KAU kuasa melakukannya??"
"Bukankah KAU mudah saja membolak-balikkan rasa itu pada siapapun yang KAU hendaki??"
"Tapi kamu menikmatinyakan??? Sesungguhnya hatimu sendiri yang menjaga rapat rasa itu"..
" Jikalau kau tidak menyukainya...bukankah sejak lama sudah kau campakkan sendiri dari dasar hatimu??!!!..."
"Aku tidak mengerti..."
"Mengapa KAU balik menuduh aku...???"
"kamu yang menuduh AKU....maka kau akan liat AKU akan seperti apa yang kau tuduhkan..."
"tidak kah kau lihat..AKU menyayangimu...AKU penuh rahmat pada mu...., AKU berkehendak atas dirimu..."
"kalau begitu...kenapa tidak KAU kehendaki saja langsung rasa benci itu hilang dari hatiku...jika KAU memang MAHA Berkehendak..."
"Sayang...memang AKU berkehendak, AKU memberi....tapi yang perlu kau tahu AKU BUKAN PEMAKSA..."
"AKU tidak akan memberi apa yang tidak kau pinta...."
"Jikalau kau tidak pernah meminta pertolongan-KU untuk menjaga hatimu..."
"Jikalau kau tidak pernah meminta cahaya-KU untuk menerangi hatimu..."
"Jikalau kau tidak pernah meminta hidayah-KU untuk memberi petunjuk pada hatimu..."
"Bagaimana mungkin AKU akan memberimu????!!!...."
"Semuanya tergantung keinginanmu..."
"Sesungguhnya AKU hanya Mengabulkannya....."
aku termangu...
Makassar, 5 Ramadhan 1219 H
Untuk sebuah hati yang rindu dituntun
Thursday, January 31, 2008
Hanya bisa menggeram...
Berpindah dari satu sisi kehidupan ke sisi yang lain
menyisakan banyak pertanyaan dalam hampir semua gyrus ku
mengapa seseorang bisa lebih biadab dibanding seorang yang lain???
mengapa seseorang bisa menjadi lebih bodoh dibanding seorang yang lain??
mengapa seseorang bisa menjadi merasa lebih berkuasa dibanding yang lain???
mengapa seseorang bisa menjadi lebih anarkis dibanding yang lain???
mengapa seseorang bisa menjadi lebih tamak dibanding yang lain???
masih adakah yang tersisa dari semua petuah yang diajarkan oleh ibu pertiwi???
menyisakan banyak pertanyaan dalam hampir semua gyrus ku
mengapa seseorang bisa lebih biadab dibanding seorang yang lain???
mengapa seseorang bisa menjadi lebih bodoh dibanding seorang yang lain??
mengapa seseorang bisa menjadi merasa lebih berkuasa dibanding yang lain???
mengapa seseorang bisa menjadi lebih anarkis dibanding yang lain???
mengapa seseorang bisa menjadi lebih tamak dibanding yang lain???
masih adakah yang tersisa dari semua petuah yang diajarkan oleh ibu pertiwi???
Wednesday, June 27, 2007
Mungkin aku sudah terlalu banyak meminta
dan kali ini bukan permintaan terakhir..
Engkau mungkin akan bosan...
Tapi kepada siapa lagi aku harus meminta...
Mungkin aku sudah terlalu sering mengeluh
dan saat ini bukan keluhan yang terakhir
Engkau mungkin akan sumpek
Tapi kepada siapa lagi aku harus mengeluh...
Mungkin tak seharusnya aku berpikiran seperti ini
karena kata orang-orang pintar itu..
Engkau akan menjelma seperti apa yang aku pikirkan..
Jadi seharusnya aku berpikiran seperti ini...
Aku tidak boleh berhenti meminta...
karena Engkau Maha pemurah dan penyayang
Aku boleh saja terus mengeluh...
karena Engkau Maha mendengar lagi Maha mengetahui...
Tapi mengapa pikiran seperti itu selalu muncul..
bermain, menari dan melompat dalam pikiranku...
dan kali ini bukan permintaan terakhir..
Engkau mungkin akan bosan...
Tapi kepada siapa lagi aku harus meminta...
Mungkin aku sudah terlalu sering mengeluh
dan saat ini bukan keluhan yang terakhir
Engkau mungkin akan sumpek
Tapi kepada siapa lagi aku harus mengeluh...
Mungkin tak seharusnya aku berpikiran seperti ini
karena kata orang-orang pintar itu..
Engkau akan menjelma seperti apa yang aku pikirkan..
Jadi seharusnya aku berpikiran seperti ini...
Aku tidak boleh berhenti meminta...
karena Engkau Maha pemurah dan penyayang
Aku boleh saja terus mengeluh...
karena Engkau Maha mendengar lagi Maha mengetahui...
Tapi mengapa pikiran seperti itu selalu muncul..
bermain, menari dan melompat dalam pikiranku...
Tuesday, June 26, 2007
Terjebak...
Aku terjepit dalam satu liang kecil
terangkai dari isyarat thalamus-ku
menciptakan nausea terhadap sekitar-ku
apakah suatu waktu aku bisa melepaskan diri??
terangkai dari isyarat thalamus-ku
menciptakan nausea terhadap sekitar-ku
apakah suatu waktu aku bisa melepaskan diri??
Monday, June 04, 2007
Kala letih itu tiba...
"Ya Allah....
kepada-Mu aku adukan kelemahan diriku...
ketidak-berdayaanku...
dan kehinaanku di mata manusia.
Wahai yang Mahakasih dan Mahasayang...
wahai Tuhan orang-orang yang tertindas...
Kepada tangansiapa akan Kau serahkan daku?
Kepada orang jauh yang memperlakukanku dengan buruk?
Atau kepada musuh...
yang Kau berikan kepadanya kekuasaan untuk melawanku?
Semuanya aku tidak peduli...
asalkan Engkau tidak murka kepadaku...
Anugerah-Mu bagiku lebih agung dan lebih luas...
Aku berlindung pada cahaya ridha-Mu..
yang menyinari kegelapan...
Janganlah murka-Mu turun kepadaku..
Janganlah marah-Mu menimpaku...
Kecamlah daku sampai Engkau ridha...
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali melalui-Mu."
(Doa Nabi Muhammad SAW,ketika berlindung di kebun Utbah dengan kaki
berlumuran darah)
Disadur dari email Bang Nadir ke milis nu-brisbane (smoga gak ada yang keberatan)
kepada-Mu aku adukan kelemahan diriku...
ketidak-berdayaanku...
dan kehinaanku di mata manusia.
Wahai yang Mahakasih dan Mahasayang...
wahai Tuhan orang-orang yang tertindas...
Kepada tangansiapa akan Kau serahkan daku?
Kepada orang jauh yang memperlakukanku dengan buruk?
Atau kepada musuh...
yang Kau berikan kepadanya kekuasaan untuk melawanku?
Semuanya aku tidak peduli...
asalkan Engkau tidak murka kepadaku...
Anugerah-Mu bagiku lebih agung dan lebih luas...
Aku berlindung pada cahaya ridha-Mu..
yang menyinari kegelapan...
Janganlah murka-Mu turun kepadaku..
Janganlah marah-Mu menimpaku...
Kecamlah daku sampai Engkau ridha...
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali melalui-Mu."
(Doa Nabi Muhammad SAW,ketika berlindung di kebun Utbah dengan kaki
berlumuran darah)
Disadur dari email Bang Nadir ke milis nu-brisbane (smoga gak ada yang keberatan)
Friday, May 18, 2007
Dan nikmat Tuhan-mu yang manakah yang akan kamu dustakan???
Pernahkah kau..
pada suatu waktu yang lapang
berbaring, merebahkan diri diatas hijaunya rumput
memejamkan mata dalam hitungan menit....
merelakan sinar matahari menyambangi lapisan kulitmu dengan mesra
membiarkan aroma segar rumput hijau menggerayangi hidungmu
merasakan sepoi hembusan angin..dingin..namun membisikkan kebebasan
Pernakah kau...
pada satu kesempatan....
merasaka lelah teramat sangat...
Lalu kau mencari tempat melepas penat
seketika kaupun tertidur...
entah karena kelelahan atau karena bahagia...
Kau merasakan...otot-otot mu perlahan mengendur...
pikiranmu mengawang lepas...menciptakan senyum tipis dibibirmu
Namun pernahkah kau berani bertanya...
atau setidaknya berfikir....
Siapa diatas segala maha nikmat ini???
bertanya...dan nikmat Tuhan-ku yang manakah yang akan aku dustakan???
pada suatu waktu yang lapang
berbaring, merebahkan diri diatas hijaunya rumput
memejamkan mata dalam hitungan menit....
merelakan sinar matahari menyambangi lapisan kulitmu dengan mesra
membiarkan aroma segar rumput hijau menggerayangi hidungmu
merasakan sepoi hembusan angin..dingin..namun membisikkan kebebasan
Pernakah kau...
pada satu kesempatan....
merasaka lelah teramat sangat...
Lalu kau mencari tempat melepas penat
seketika kaupun tertidur...
entah karena kelelahan atau karena bahagia...
Kau merasakan...otot-otot mu perlahan mengendur...
pikiranmu mengawang lepas...menciptakan senyum tipis dibibirmu
Namun pernahkah kau berani bertanya...
atau setidaknya berfikir....
Siapa diatas segala maha nikmat ini???
bertanya...dan nikmat Tuhan-ku yang manakah yang akan aku dustakan???
Saturday, April 28, 2007
Mutlak adanya...
Tuntun aku dalam mencari hikmah
dari setiap kejadian yang Kau tetapkan atas diriku
sebab aku tahu itu mutlak adanya
dan sebab aku tak kuat menanggung kegagalan
dan sebab aku tak mau putus asa dari rahmat-Mu
dan sebab aku malu hanya mengingatmu jika perlu
dan sebab aku tak kuat untuk tak berprasangka
dan sebab aku tak kuat menahan cemooh
dan sebab aku tak mau memaki
dan sebab aku tak tahu harus berbuat apa
dan sebab aku tahu Kau Maha Mengetahui
dari setiap kejadian yang Kau tetapkan atas diriku
sebab aku tahu itu mutlak adanya
dan sebab aku tak kuat menanggung kegagalan
dan sebab aku tak mau putus asa dari rahmat-Mu
dan sebab aku malu hanya mengingatmu jika perlu
dan sebab aku tak kuat untuk tak berprasangka
dan sebab aku tak kuat menahan cemooh
dan sebab aku tak mau memaki
dan sebab aku tak tahu harus berbuat apa
dan sebab aku tahu Kau Maha Mengetahui
Wednesday, April 25, 2007
Puisi diri
Rapat-rapat pucuk muda akasia
menari manja menggoda dan menggairahkan
dibelai semilir angin di penghujung musim gugur
Palung di dasar hati pintunya terbuka
menguak satu satu yang lama tak terjamahkan
rupa kenangan yang entah luhur entah terkubur
Dalam satu lingkaran mendamba pisah dan sua
pada raga tertanam lambaikan tangan
pada jiwa yang utuh tambatkan janur
Tepiskan jalan menghitung kelana
biarkan waktu bertaut disetiap penggalan
pancangkan rasa indra pada yang luhur
menari manja menggoda dan menggairahkan
dibelai semilir angin di penghujung musim gugur
Palung di dasar hati pintunya terbuka
menguak satu satu yang lama tak terjamahkan
rupa kenangan yang entah luhur entah terkubur
Dalam satu lingkaran mendamba pisah dan sua
pada raga tertanam lambaikan tangan
pada jiwa yang utuh tambatkan janur
Tepiskan jalan menghitung kelana
biarkan waktu bertaut disetiap penggalan
pancangkan rasa indra pada yang luhur
Monday, April 23, 2007
Antara aku dan sang mentari
Nimbous dan cumulus berbayang hitam
bergantung dilangit berarak seiring tiupan angin
satu gumpalannya berhenti tepat di depan jendela kamarku
menciptakan sekat antara aku dan sang mentari
tapi aneh...perpisahan yang menghadirkan keteduhan...
Cumulonimbous itu perlahan menjauh
dan sempurna menjauh dalam hitungan ke tiga degupan jantungku
menghadirkan dengan jelas garis merah jemari sang mentari
aku tak sanggup...
satu gumpalan lain datang teduh namun sinis...aku tidak peduli
Teduh-merah dan teduh bagiku hanya sepenggal bukti
tapi hikmahnya adalah garis hidup yang pasti..
sanggup atau tidak itu yang tak pasti...
bergantung dilangit berarak seiring tiupan angin
satu gumpalannya berhenti tepat di depan jendela kamarku
menciptakan sekat antara aku dan sang mentari
tapi aneh...perpisahan yang menghadirkan keteduhan...
Cumulonimbous itu perlahan menjauh
dan sempurna menjauh dalam hitungan ke tiga degupan jantungku
menghadirkan dengan jelas garis merah jemari sang mentari
aku tak sanggup...
satu gumpalan lain datang teduh namun sinis...aku tidak peduli
Teduh-merah dan teduh bagiku hanya sepenggal bukti
tapi hikmahnya adalah garis hidup yang pasti..
sanggup atau tidak itu yang tak pasti...
Sunday, April 22, 2007
Kemarau panjang di padang savana
Purnama ketiga dalam hitungan kabisat
rumput menguning, kering dan layu
hidup segan matipun enggan
penantian panjang satu savana pada kisaran ketiga
dari sang langit yang tak kunjung tiba
Beberapa elang hitam terbang merendah
semakin lama semakin rendah dan mendekat
lalu merapat di atas padang savana..merayu dan menggoda
berikan aku satu bangkai dari kemarau ini..pinta elang-elang
lalu bangkai itu muncul satu persatu, semakin lama semakin banyak...
Senandung kemarau panjang mendayu di atas padang savana
seolah ratapan terhadap takdir yang tak habis-habisnya
elang-elang itu menetap dan bangkai-bangkai semakin menumpuk...
rumput menguning, kering dan layu
hidup segan matipun enggan
penantian panjang satu savana pada kisaran ketiga
dari sang langit yang tak kunjung tiba
Beberapa elang hitam terbang merendah
semakin lama semakin rendah dan mendekat
lalu merapat di atas padang savana..merayu dan menggoda
berikan aku satu bangkai dari kemarau ini..pinta elang-elang
lalu bangkai itu muncul satu persatu, semakin lama semakin banyak...
Senandung kemarau panjang mendayu di atas padang savana
seolah ratapan terhadap takdir yang tak habis-habisnya
elang-elang itu menetap dan bangkai-bangkai semakin menumpuk...
Monday, April 16, 2007
Doaku di atas kerikil
Hari ini kembali aku berlutut...
Kusanggah kepalaku dengan kedua tanganku...
(tangan yang kulitnya sudah mulai keriput..)
Kedua kakiku terlipat tak rapi
Dengan lutut bersandar pada kerikil kecil nan tajam...
(nyeri..tapi aku tak peduliii...)
aku mengemis pada Sang pencipta kehidupan
aku berada disimpang kebimbangan....
Tunjukkan aku jalanMu...aku berbisik
aku tahu aku tidak suci seperti mereka,
tapi aku juga tahu Kau adalah Dzat
yang mencipta dengan lautan cinta di atas cinta
Kau adalah satu tempatku bermohon yang teramat kupercaya...
mulutku tak berhenti bergerak
airmataku jatuh, badanku bergetar...
aku terseok menyusuri jalan panjang...aku mengeluh
menggendong segala keburukanku, angkaraku dan bangkai-bangkai busuk itu..
menuju satu titik yang aku tak tahu kapan saatnya aku tiba
Lagi, aku berada disimpang kebimbangan,
Tunjukkan aku jalanMu...
Tiada daya dan upayaku
melaikan atas segala kehendakMu....kembali aku merintih
St Lucia,
Aku juga berhak atas rindu kepadaMu
Kusanggah kepalaku dengan kedua tanganku...
(tangan yang kulitnya sudah mulai keriput..)
Kedua kakiku terlipat tak rapi
Dengan lutut bersandar pada kerikil kecil nan tajam...
(nyeri..tapi aku tak peduliii...)
aku mengemis pada Sang pencipta kehidupan
aku berada disimpang kebimbangan....
Tunjukkan aku jalanMu...aku berbisik
aku tahu aku tidak suci seperti mereka,
tapi aku juga tahu Kau adalah Dzat
yang mencipta dengan lautan cinta di atas cinta
Kau adalah satu tempatku bermohon yang teramat kupercaya...
mulutku tak berhenti bergerak
airmataku jatuh, badanku bergetar...
aku terseok menyusuri jalan panjang...aku mengeluh
menggendong segala keburukanku, angkaraku dan bangkai-bangkai busuk itu..
menuju satu titik yang aku tak tahu kapan saatnya aku tiba
Lagi, aku berada disimpang kebimbangan,
Tunjukkan aku jalanMu...
Tiada daya dan upayaku
melaikan atas segala kehendakMu....kembali aku merintih
St Lucia,
Aku juga berhak atas rindu kepadaMu
Subscribe to:
Comments (Atom)